
Seperti bunga yang mekar anggun di pelataran sunyi, begitulah caraku mengagumimu. Diam. Mencintaimu tanpa bising suara. Sebab aku tahu betul, hati tak pernah punya kuasa untuk memilih ke mana ia harus jatuh dan menetap.
***
Ternyata, pelarian paling melelahkan adalah saat berusaha sembunyi dari isi kepala sendiri. Aku bisa dengan mudah menutup rapat pintu dari bisingnya dunia luar. Tapi aku tak pernah benar-benar bisa lari dari riuh di dalam dada yang terus meragukan setiap langkahku. Pada akhirnya, yang membuatku lebam bukanlah penolakan orang lain. Melainkan ketakutan bahwa aku tak pernah cukup bagi diriku sendiri.
***
Rembulan perlahan meredup dan hilang. Meninggalkan sepotong hati yang pasrah terperangkap dalam kemustahilan, sementara debur teka-teki lautan terus membisikkan doa tanpa akhir.
***
Seperti lembar terakhir pada sebuah buku. Padamu, pulangku menuju. Sebuah tempat di mana semua lelah perjalanan akhirnya beristirahat, tanpa butuh penjelasan panjang-lebar. Dan setelah berlembar-lembar kisah tentang ragu, jatuh, bangkit, hingga tersesat, namamu menjelma menjadi penutup yang paling tenang.
***
Kepingan-kepingan perasaan di atas mungkin terasa acak dan terputus. Tapi, bukankah isi kepala kita memang sering kali begitu? Jadi, dari keempat sudut hati ini, mana yang diam-diam sedang menyuarakan perasaanmu hari ini?
Selamat dan terus berkarya