Sang Pengemban Risalah-Nya ~ Rohmatul Adhimah

Karya oleh: Redaksi Pena Pustaka
Dipublikasikan oleh: Perpustakaan MAN 2 Probolinggo (Admin) Estimasi waktu baca: 2 Menit Baca Karya ini telah dilihat sebanyak 0 Kali

Kala senja itu …
Aku bertanya-tanya, siapakah sosok pria itu?
Punggungnya seakan memancarkan cahaya, menyinari buana yang penuh dosa.
Seketika itu, duniaku seakan membeku,
Seolah mencoba mengabadikan pemandangan bak lukisan di depanku.

Alunan ayat suci yang kau lantunkan menyentuh kalbuku,
Bak sang bayu membelai manja, mengenyahkan hati yang gelabah,
Tetesan air mata jatuh di telapak tangan tanpa kusadari,
Seakan menggugurkan rasa kesombongan diri.

Siapakah pria itu?
Dia adalah sang bagaskara,
Dia adalah harapan di tengah dunia yang semakin memburuk tiap detiknya,
Dia lah pengemban risalah, pemburu surga yang diidamkan.

Dalam sujud ku, terselip banyak doa
Berharap kau lah imam ku kelak
Kau bilang, memperbanyak doa dapat mewujudkan harapan
Namun penantian abadi yang ku dapat
Menyulap semua angan dan mimpi menjadi halu

Cakrawala menjadi saksi
Detak ini tak lagi seharmoni
Tak terima akan fakta yang menjadi fiksi
Bersama kerinduan yang memilukan
Sebuah kebencian bercampur menjadi satu dengan ketidakberdayaan.

Ketika namamu mulai memudar dalam hidupku,
Sekali lagi kau datang, dalam bentuk sepucuk surat
Cuplikan memori-memori tentang perjuanganmu tertulis rapi didalamnya
Nyatanya, kau tak pernah meninggalkanku
Kau selalu di sampingku, mengawasi dari surga-Nya
–
Bionarasi Penulis
Rohmatul Adhimah, atau sering juga di sapa dengan nama β€˜Imey’. Lahir 16 tahun yang lalu tepat pada tanggal 28 September di kota Kraksaan, Probolinggo. Selain hobi menulis, mengbucin, dan menghalu, ia juga senang mempelajari kosa kata bahasa asing supaya ketika dia kuliah di China, dia bisa berkomunikasi dengan teman dari negeri asing menggunakan beberapa kosa kata bahasa ibu mereka. Si mageran yang selalu garuk-garuk kepala ketika menghadapi segala hal yang berbau IPA, namun tetap memilih jurusan IPA di MAN 2 PROBOLINGGO.
Mottonya ialah tetap bangkit sesakit apapun ketika terjatuh, hingga akhir hayat menjemput.

Apa tanggapan Anda?

Tinggalkan Tanggapan Anda

Alamat surel (email) Anda tidak akan dipublikasikan.