
Basuh wudhuku yang mendinginkan,
takkan mampu menyatu dengan percik tirtamu.
Menyatukan kita;
bagai merengkuh bayang, kemustahilan yang menyesakkan.
Tuhanmu adalah Tuhanmu,
dan Tuhanku adalah Tuhanku.
Tanganmu menangkup merapal Astungkara,
sementara tengadahku berbisik Aamiin.
Dua doa yang mengudara,
namun tak sudi bertaut di langit yang sama.
Kasih ini mungkin murni,
namun takdir kita terlalu berduri.