Suport Sistem Penuh Zahrotul Husnayaini Darmawan dalam Mencapai Predikat Duta Genre Kabupaten Probolinggo 2026

Karya oleh: Fizah Afisyatul Febyana
Dipublikasikan oleh: Redaksi Pena Pustaka (Admin) Estimasi waktu baca: 4 Menit Baca Karya ini telah dilihat sebanyak 53 Kali

Di atas panggung Pendopo Alun-Alun Kabupaten Probolinggo, Zahrotul Husna Yaini Darmawan tampil paripurna. Senyum cerianya merekah tak henti saat memegang piala Juara 2 Duta GenRe Putri 2026. Di mata publik, siswi program percepatan MAN 2 ini memancarkan aura pelajar teladan yang nyaris tanpa celah. Sahabat karibnya, Amel, bahkan tak ragu melabeli Awa (sapaan akrabnya) sebagai representasi ideal generasi muda.

“Dia tuh orangnya ceria, aktif banget. Pokoknya tuh kayak impian anak Indonesia lah dia tuh,” ungkap Amel.

Namun, di balik sorot lampu dan selempang kebanggaan yang terkalung di bahunya, Awa tetaplah seorang remaja pada umumnya yang butuh jeda. Realita ini diungkapkan Amel secara blak-blakan. Berbeda dengan sosoknya yang kelewat aktif di luar, Awa menggunakan rumah sebagai tempat untuk benar-benar mengistirahatkan diri dari padatnya aktivitas.

Menurut Amel, sahabatnya itu butuh ruang privasi untuk menyeimbangkan energinya. “Kalau di rumah, dia tuh orangnya mungkin lebih banyak istirahat di kamarnya. Mungkin dia cerianya di luar doang,” seloroh Amel, menggambarkan sisi lain sang Duta GenRe saat sedang mengisi ulang tenaganya.

Sisi manusiawi Awa kian terlihat jelas saat ia membeberkan titik terendahnya selama mengikuti masa karantina kompetisi. Menariknya, tekanan terbesar yang ia rasakan justru bukan semata dari kerumitan data stunting atau materi presentasi advokasi GenCare. Mental Awa sempat diuji hebat oleh kerasnya tuntutan manajemen waktu.

Jujur ada saat di mana aku ngerasa drop. Aku ngerasa sangat tertinggal jauh dengan peserta-peserta lain. Apalagi persiapanku baru bisa fokus setelah Maghrib, karena jam sekolahku sangat padat.

Sebagai siswi program percepatan SKS 2 tahun, jadwal madrasah yang berakhir sore hari jelas menguras fisiknya. Tekanan ini sukses memantik rasa insecure (tidak percaya diri) di dalam dirinya. Terlebih lagi, pada momen yang sama, ia mulai menyadari betapa hebatnya keunggulan dan visi-misi dari puluhan finalis lain yang menjadi pesaingnya.

Di titik kritis inilah, peran sebuah sistem pendukung (support system) diuji. Saat rasa ragu mulai menggerogoti keyakinannya, Amel hadir sebagai garda terdepan. Remaja yang melabeli dirinya sebagai bestie Awa ini menjadi saksi mata betapa berdarah-darahnya perjuangan sang sahabat menuju malam puncak.

“Dia tuh berjuangnya benar-benar berjuang. Berkali-kali dia minta doa ke aku. Dia sempat nggak PD, tapi aku yang selalu meyakinkan dia. Aku bilang, ‘Kamu pasti bisa, dari segi apa pun kamu tuh pasti bisa’,” tutur Amel menirukan percakapan mereka kala itu.

Tentu saja, Amel tidak sendirian menopang mental sang finalis. Di belakang panggung, ada pilar-pilar kokoh lain yang menjaga Awa agar tidak runtuh. Mulai dari dukungan tanpa batas kedua orang tuanya, pengawalan ketat dari Guru BK Ibu Megawati, S.Pd., dan Ibu Sri Sukartiningsih, S.Sos., M.Pd., selaku salah satu guru MAN 2 Probolinggo terkait pemberkasan, hingga suntikan motivasi dari Kak Nadia sang Duta GenRe demisioner.

Kolaborasi dukungan inilah yang pada akhirnya berhasil mengembalikan fokus Awa. Ia kembali bangkit untuk memperjuangkan misi utamanya: memberikan ruang aman bagi korban perundungan lewat GenCare dan melawan normalisasi pernikahan dini di Probolinggo.

Kini, badai karantina telah berlalu dan gelar Juara 2 telah dalam genggaman. Lebih dari sekadar piala atau uang pembinaan, kompetisi ini rupanya berhasil membentuk versi yang lebih baik dari diri seorang Awa. Hal ini pun tak luput dari pengamatan Amel.

“Perubahan positifnya? Dia pastinya jadi lebih bahagia, dan lebih aktif juga sih kata aku,” pungkas Amel dengan nada lega.

Gelar juara kini memang sudah di tangan. Namun, bagi Amel, sahabatnya itu tidak lantas berubah menjadi sosok super yang kaku. Awa tetaplah siswi madrasah yang butuh rebahan di kamar untuk mengisi energi, bisa merasa panik karena tuntutan waktu, dan butuh bahu teman untuk bersandar. Bedanya, kini senyum ceria remaja itu memikul tugas baru untuk menyuarakan keresahan kawan sebayanya di Probolinggo.

Apa tanggapan Anda?

Tinggalkan Tanggapan Anda

Alamat surel (email) Anda tidak akan dipublikasikan.