
Kraksaan, MDP News — Zahrotul Husnayaini Darmawan, siswi kelas 11 H program percepatan MAN 2 Probolinggo, berhasil meraih gelar Juara 2 Duta Generasi Berencana (GenRe) Putri Kabupaten Probolinggo tahun 2026. Penobatan tersebut diumumkan dalam acara Grand Final yang berlangsung di Pendopo Depan Alun-Alun Kabupaten Probolinggo, Rabu (22/7).
Siswi yang akrab disapa Awa ini sukses menyisihkan puluhan peserta melalui serangkaian seleksi ketat. Dari sekitar 80 pendaftar awal pada tahap pemberkasan, seleksi mengerucut menjadi 20 orang melalui tes tulis dan pembuatan video. Proses ini bermuara pada pemilihan 10 pasang finalis putra dan putri yang berlaga di babak wawancara serta presentasi advokasi.
Di hadapan dewan juri, Awa mempresentasikan program inovatif bertajuk “GenCare” (GenRe Care). Advokasi ini berfokus pada penyediaan fasilitas pelaporan perundungan (bullying) secara anonim berbasis situs web. Program ini dirancang untuk menyaring aspirasi masyarakat sekaligus memberikan ruang aman bagi korban perundungan di lingkungan sekolah agar berani bersuara (speak up).
Motivasi Awa dalam ajang ini lahir dari keresahan personalnya terhadap kondisi masyarakat sekitar yang masih memandang lumrah pernikahan dini. Ia juga terdorong untuk mematahkan stigma patriarki yang kerap meremehkan pendidikan tinggi bagi kaum perempuan dengan pameo bahwa pada akhirnya perempuan hanya akan berakhir di dapur.
“Saya ingin membuktikan bahwa perempuan tidak cuma bisa di dapur. Memang akhirnya kita akan masak, tapi setidaknya kita bisa memilih dapur yang seperti apa. Pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi membutuhkan finansial dan mental yang stabil untuk mengurus anak,” tegas Awa.
Sebagai siswi program percepatan yang menempuh pendidikan SMA hanya dalam waktu dua tahun, manajemen waktu menjadi tantangan utama. Dengan jadwal sekolah yang berakhir pukul 15.30 WIB, Awa mendedikasikan waktu selepas Maghrib untuk mengkaji data terkait stunting dan pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo. Menariknya, di tengah persiapan Duta GenRe, ia juga berhasil memenangi Juara 2 lomba FLS2N kategori film pendek tingkat kabupaten.
Keberhasilan Awa tidak lepas dari sistem pendukung di sekitarnya. Selain dukungan penuh dari kedua orang tua dan teman sebaya yang membantunya mengejar ketertinggalan pelajaran, pihak madrasah juga berperan krusial. Guru Bimbingan Konseling (BK) Ibu Megawati, S.Pd., ibu Sri Sukartiningsih, S.Sos., M.Pd., selaku guru, serta Duta GenRe demisioner Nadia Puspitasari, secara aktif mendampingi proses pemberkasan hingga menjaga stabilitas mental Awa selama kompetisi.
Pasca-kemenangan, Awa langsung menargetkan langkah nyata. Ia berencana merevitalisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), baik di lingkungan masyarakat Sebaung maupun di MAN 2. Wadah ini akan difungsikan untuk mencetak pendidik dan konselor sebaya dalam mengedukasi bahaya NAPZA, risiko pernikahan dini, serta program pengurangan anemia yang selama ini telah digalakkan di madrasahnya melalui pembagian tablet tambah darah.
Pesan untuk Generasi Muda
“Lebih baik menyesal karena kita kalah dalam suatu hal, daripada menyesal karena tidak pernah mendaftar sama sekali,” ungkap Awa.
Melalui kemenangannya, ia menitipkan pesan tegas kepada seluruh remaja Probolinggo untuk tidak menyentuh NAPZA, menghindari pernikahan dini, dan lebih peduli terhadap tingginya angka stunting di lingkungan sekitar.