Cerita ini bermula dari salah satu lembaga pendidikan tempatku menimba ilmu. Saat itu masa ujian akhir sekolah untuk angkatanku. Aku bersama teman seangkatan melakukan ziarah ke salah satu makam wali, berharap wasilah pertolongan dari Allah dimudahkan dalam kelulusan sekolah kami. Karena masih dalam kondisi pandemi corona, waktu itu sekolahku terpaksa ditutup, dan pengumuman mengenai kelulusan akhirnya ditunda.
Para guru memutuskan memulangkan seluruh siswa yang ada di asrama, termasuk aku yang saat itu telah berada di gerbang kelulusan. Kami yang telah mengikuti ujian kelulusan diminta mempersiapkan langkah setelah lulus, termasuk memilih lembaga pendidikan jika ingin melanjutkan studi. Seminggu setelah diliburkan, salah satu teman berinisiatif membentuk grup WhatsApp untuk angkatan. Aku ingat, banyak teman yang merasa senang waktu itu. Termasuk aku yang akhirnya bisa berkenalan dengan banyak teman seangkatan yang tidak pernah berinteraksi sebelumnya.
Tinggal di asrama yang begitu ketat tentang pergaulan antara laki-laki dan perempuan, membuat aku dan beberapa teman lain bertambah bahagia ketika tahu kalau di grup tersebut turut bergabung para siswi yang tidak pernah bisa kami temui. Namun, ada sedikit hal yang mengganjal dalam hati. Sebab kejelasan tentang nasibku setelah lulus nanti belum bisa aku tentukan.
Dibalik kegalauan memikirkan masa depan, aku sedikit terhibur dengan candaan teman-teman di grup angkatan. Perlahan keakraban antara kami mulai terjalin, dan tiba-tiba ada sesuatu yang sepertinya menambah kegelisahan hatiku. Entah mengapa, diantara banyaknya anggota grup, ada sosok yang menarik perhatianku. Aku mulai memberanikan diri berkenalan, dan akhirnya kami mulai sering berkomunikasi. Merasa yakin dengan perempuan yang mencuri hatiku, aku memutuskan jalan hidup yang kupilih setelah lulus nanti adalah serius membina hubungan dengan dia.
Gayung bersambut, dia menerima niat baikku untuk menjalin keseriusan. Aku mulai mempersiapkan diri, khususnya mengenai hal-hal yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Namun sepertinya aku masih perlu belajar. Salah seorang temanku mengabarkan kalau perempuan yang kini dekat denganku ternyata tidak setia. Awalnya aku tidak percaya, tapi mengingat persahabatan yang sudah kujalin dengan teman tersebut, hatiku mulai ragu. Aku mulai mencari tahu dan meminta kejujuran si perempuan.
Seperti disambar petir, perempuan itu mengakui kalau dia dekat dengan laki-laki lain. Kami akhirnya ribut besar dan berujung dengan kata pisah. Berhari-hari kulalui dengan perasaan galau dan sakit hati. Kecewa dengan rasa sakit cinta yang baru pertama kali kurasakan. Aku tidak bisa menerima kenyataan. Aku selalu berpikir mengapa dia tega denganku, dia rela menusuk dari belakang seperti istilahโStab in the back.โ
Terus berusaha untuk melupakan dia, namun sepertinya hatiku sulit diajak untuk move on. Dengan sisa harapan yang kumiliki, meskipun posisinya aku yang disakiti, aku masih terus berusaha menghubungi dia dan meminta untuk bisa kembali menjalin hubungan. Kenyataan tak sesuai harapan, itu yang kurasakan. Usahaku untuk meminta kembali memperbaiki jalinan kasih, ternyata tidak disambut baik oleh dia.
Tak ingin terus larut dengan kenyataan pahit, aku bertekad memulai lembaran baru. Aku memutuskan untuk lost contact dengan dia, memblokir seluruh sosial medianya, dan tak lagi ingin tahu kabar apapun tentang dia. Sebulan berjalan, aku merasa lebih baik. Perasaan sakit karena dihianati telah terkikis, dan ada perasaan bebas dari beban.
Seiring berjalan waktu, bahagia itu kembali terusik. Salah satu sahabat waktu di sekolah datang mengabarkan kabar bahagia tentang pertunangannya. Sontak ada goresan yang kembali tertoreh. Ada perasaan hampa dan sepi yang kemudian perlahan menjalar, memunculkan kembali kesedihan yang sebenarnya telah coba kubuang jauh ke belakang.
Mencoba menepis, aku mengalihkan pikiran dengan berbagai kesibukan. Hingga pada satu waktu, kisah kembali terulang. Iseng membuka-buka kembali grup pertemanan masa sekolah di Facebook, aku mengirimkan permintaan pertemanan kepada beberapa orang yang kukenal. Salah satu yang merespon saat itu Halisah. Meskipun dulu di masa sekolah kami tidak terlalu akrab karena aturan, kesan awal yang kuperoleh saat mulai sering chatting, dia orangnya asik.
Jujur, setelah merasakn sakit karena dihianati ada sedikit perasaan takut untuk memulai hubungan kembali. Pengalaman itu kemudian memberikan pelajaran tentang kriteria perempuan yang harusnya kucari. Prinsipku, perempuan idaman itu diperhatikan dari: 1. Agama, 2. Akhlak, 3. Kejujuran, 4. Kesetiaan, dan terakhir 5. Penampilan.
Berkenalan dengan Halisah menghadirkan harapan baru dalam hati. Keakraban yang mulai terjalin antara aku dengannya semakin membuat aku yakin kalau dialah pilihan terbaik untukku. Tapi, sepertinya keberuntungan belum berpihak padaku. Setelah mengutarakan perasaanku kepada Halisah, dia menolak dengan argumen tidak ingin menjalin hubungan spesial apapun dengan laki-laki untuk saat ini.
Halisah hanya ingin menjalin pertemanan. Komitmen itu pun mau tidak mau harus aku terima meskipun pahit. Awalnya terasa canggung, namun perlahan akhirnya komunikasi kami mulai berjalan lancar. Di beberapa kesempatan Halisah sering menelpon denganku mengobrolkan berbagai hal bahkan hingga larut malam. Sempat satu waktu, Halisah mengjakku bertemu di sebuah tempat, aku yang memang masih menyimpan harapan padanya, langsung menyetujui ajakan tersebut.
Sesuai waktu yang ditetapkan, aku datang menemui Halisah yang ternyata tidak datang sendiri. Ia bersama seorang teman perempuannya yang kemudian kuketahui namanya Melinda. Pembicaraan hari itu terkesan biasa saja, hanya obrolan seorang teman yang kebetulan ingin bertemu. Satu hal yang berkesan saat itu, aku bisa berkenalan dengan Melinda.
Tak ingin larut menaruh harapan kepada Halisah, aku mulai mencoba membuka diri kepada Melinda. Sesuai harapan, Melinda pun orangnya asik diajak ngobrol. Berawal dari obrolan ringan yang sekadar hanya ingin berkenalan, aku mulai yakin kalau Melinda adalah perempuan idamanku. Tapi tak ingin terluka karena ketergesaan, aku mencoba menahan diri untuk tidak mengutarakan apa yang ada dalam isi hatiku. Sekitar sebulan berlalu setelah menimbang-menimbang perasaan, aku memutuskan akhirnya mampu meyakinkan diri untuk menyampaikan apa yang kurasakan kepada Melinda.
Dimulai dengan basa-basi menanyakan kabar hingga menanyakan apa yang sedang ia lakukan, aku pun menyatakan keseriusanku menjalin hubungan dengan Melinda. Cukup berdebar juga rasanya, terlebih setelah mengungkapkan perasaan itu ada kebisuan yang tercipta antara aku dengan Melinda. Detik terasa lambat, kebisuan antara kami terasa semakin tidak nyaman.
โhmmm โฆ gimana ya mas. Kita taโarufan aja dulu. Kalau memang cocok kita lanjutkan. Tapi kalau tidak, mungkin kita tidak jodoh.โ Ucap Melinda memecah kebisuan.
Aku pun menyetujui hal tersebut. Sejak saat itu aku mulai lebih sering berkomunikasi dengan Melinda dan keluarganya termasuk orang tuanya. Di luar dugaan, ternyata orang tua Melinda adalah teman sekolah orang tuaku dulu. Terasa sebuah angin segar, hubunganku antara Melinda kuharap bisa sampai pada muara kebahagiaan.
Berjalan beberapa waktu, ada kabar yang disampaikan Melinda. Kabar yang sebenarnya bahagia, namun ada hal yang mengganjal dalam hatiku ketika mendengarnya. Melinda memberitahukan kalau dia lolos sebagai salah satu penerima beasiswa untuk melanjutkan studi di salah satu lembaga pendidikan yang cukup terkenal. Kesempatan yang sudah menjadi impian Melinda sejak dulu.
Aku yang belum menjadi siapa-siapa bagi Melinda tentu tidak punya daya untuk melarang. Meskipun berat, akhirnya aku harus merelakan perpisahan dengan Melinda untuk beberapa waktu. Berbagai kekhawatiran pun satu per satu mulai muncul. Terlebih setelah kepergian Melinda, aku takut ia nantinya berubah pikiran ketika kembali. Aku takut hubungan ini berakhir pahit sama dengan kisah-kisah sebelumnya. Apalagi saat itu Melinda harus tinggal asrama yang aturannya cukup ketat, termasuk tentang aturan tidak boleh membawa alat komunikasi agar bisa lebih fokus belajar. Ini kemudian membuatku semakin galau karena tidak bisa berkomunikasi langsung dengannya.
Setahun berlalu dengan ketidak pastian, hatiku sedikit lega ketika mendengar kepulangan Melinda yang sedang liburan. Tapi ada hal yang semakin mengusik hati, terlebih ketika mengetahui kenyataan kalau kabar itu tidak kuketahui langsung dari Melinda. Aku berniat menghubunginya dan mengajaknya bertemu untuk membicarakan hubungan kami berdua. Belum sempat aku melaksanakan niat tersebut, ternyata Melinda telah menghubungiku duluan. Semakin terasa lega, aku berpikir tak perlu ada hal yang dikhawatirkan. Melinda masih mengingatku, buktinya ia yang punya inisiatif menghubungiku duluan.
โMaaf mas … aku minta kita temanan saja.โ Tegas Melinda setelah sebelumnya menanyakan kabar.
Aku yang merasa belum siap dan tak percaya dengan keputusan Melinda, mencoba memastikan kembali. Tapi memang sepertinya aku tidak salah dengar. Melinda memutuskan pisah. Kenyataan yang kutakutkan. Aku berusaha menanyakan sebab dan alasannya. Jawaban Melinda tegas, ia ingin mengakhiri hubungan ini tanpa pernah mau memberikan alasan.
Aku kembali hancur, menerima sebuah jalan takdir yang tidak kuharapkan. Beberapa waktu kemudian, aku mendengar kabar kalau Melinda ternyata sudah menjalin hubungan dengan pria lain. Sakit memang, tapi aku harus kuat. Aku harus belajar yakin, bahwa ini semua adalah skenario terbaik dari Allah.
Maafkan saya jika ada kata-kata yang tidak mengenakkan bagi yang baca.
*****
Bionarasi
Perkenalkan nama saya IQBAL ROMADHONI, berasal dari Kecamatan Gending tepatnya di Dusun Banjar Desa Randupitu RT.004/RW.002. Saya pribadi masih sekolah tepatnya di Madrasah Aliyah Negri 2 Probolinggo, kelas XI, umur saya 17 tahun, saya alumni Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong pada tahun 2019-2020 bisa disebut angkatan corona.